A.
Pengertian Shalat Dhuha
Shalat dhuha adalah shalat sunah yang dikerjakan pada pagi
hari. Dimulai ketika matahari mulai naik sepenggalah atau setelah terbit matahari (sekitar jam 07.00) sampai
sebelum masuk waktu zhuhur ketika matahari belum naik pada posisi
tengah-tengah. Namun, lebih baik apabila dikerjakan setelah matahari terik. Hal
ini didasarkan oleh hadist dari Zaid bin Arqam RA sebagai berikut:
صلاة الآوابين حين تر مض الفصال.
صلاة الآوابين حين تر مض الفصال.
Artinya:
“Shalat Awwabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah/bertaubat) adalah ketika anak unta mulai kepanasan pada waktu dhuha.” (H.R Muslim).
“Shalat Awwabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah/bertaubat) adalah ketika anak unta mulai kepanasan pada waktu dhuha.” (H.R Muslim).
a.
Hukum Mengerjakan Shalat
Dhuha
Shalat dhuha adalah shalat sunah yang dikerjakan pada pagi
hari. Dimulai ketika matahari mulai naik sepenggalah atau setelah terbit matahari (sekitar jam 07.00) sampai
sebelum masuk waktu zhuhur ketika matahari belum naik pada posisi
tengah-tengah. Namun, lebih baik apabila dikerjakan setelah matahari terik. Hal
ini didasarkan oleh hadist dari Zaid bin Arqam RA sebagai berikut:
صلاة الآوابين حين تر مض الفصال.
صلاة الآوابين حين تر مض الفصال.
Artinya:
“Shalat Awwabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah/bertaubat) adalah ketika anak unta mulai kepanasan pada waktu dhuha.” (H.R Muslim).
“Shalat Awwabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah/bertaubat) adalah ketika anak unta mulai kepanasan pada waktu dhuha.” (H.R Muslim).
Anjuran shalat dhuha Shalat Dhuha hukumnya sunah muakkad
(sangat dianjurkan). Sebab, Rasulullah senantiasa mengerjakanya dan berpesan
kepada para sahabatnya untuk mengerjakan shalat dhuha sekaligus menjadikanya
sebagai wasiat. Wasiat yang diberikan Rasulullah kepada satu orang juga berlaku
untuk seluruh umat, kecuali terdapat dalil yang menunjukan kekhususan hukumnya
bagi orang tersebut.
Dalam riwayat Abu Daud dan Ahmad yang juga bersumber dari Abu Darda’ RA disebutkan:
أوصاني حبيبي ص.م بثلاث لا أدعهن لثيء أوصاني بصيام ثلاثة أيام من كل ثهر ولا أنام ألا على وتر وبسبحة الضحى فى الحضر و السفر
Artinya :
Dalam riwayat Abu Daud dan Ahmad yang juga bersumber dari Abu Darda’ RA disebutkan:
أوصاني حبيبي ص.م بثلاث لا أدعهن لثيء أوصاني بصيام ثلاثة أيام من كل ثهر ولا أنام ألا على وتر وبسبحة الضحى فى الحضر و السفر
Artinya :
“kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga hal yang
tidak pernah aku tinggalkan karena sesuatu hal. Beliau mewasiatkan kepadaku
puasa tiga hari setiap bulan, supaya aku tidak tidur kecuali telah shalat
witir, dan shalat dhuha ketika hadir atau dalam perjalanan.’ (H.R. Abu Daud dan
Ahmad) Hadist-hadist shahih di atas merupakan alasan yang cukup kuat terhadap
kesunahan pelaksanaan shalat dhuha yang sangat dianjurkan. Meskipun Rasulullah
mewasiatkan sesuatu kepada salah satu sahabat, akan tetapi wasiat itu juga
ditujukan kepada seluruh umatnya, tidak terbatas kepada seseorang saja.
b.
Bilangan Rakaat Shalat Dhuha
Shalat dhuha sekurang-kurangnya terdiri dari dua rakaat.
Tidak ada batasan yang pasti mengenai jumlahnya. Namun, terkadang Rasulullah
mengerjakan dua rakaat, empat rakaat, delapan rakaat, bahkan lebih. Setiap
rakaat ditutup dengan salam, sebagaimana disebutkan oleh hadist berikut: Dari
Ummu Hani’ binti Abu Thalib, bahwa Rasulullah mengerjakan shalat dhuha sebanyak
delapan rakaat dan mengucapkan salam pada setiap dua rakaaat.
Artinya :
“Rasulullah
SAW shalat dhuha sebanyak empat rakaat dan menambah menurut kehendak Allah
(menurut kehendaknya).” (H.R Muslim dan Ahmad) Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah
meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: من صلى
الضحى ثنتي عثر ة ركعة بنى الله له قصرا من ذهب في الجنة. Artinya :
“Barang siapa shalat dhuha dua belas rakaat maka Allah akan
membangun untuknya istana dari emas di surga.” (H.R Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik).
c.
Niat Shalat Dhuha
Hakikat niat ada di dalam hati yang merupakan dorongan atau
keinginan kuat untuk mengerjakan sesuatu. Suatu niat tergambar dari rangkaian
perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Suatu ibadah akan diterima oleh Allah
bila dilandasi oleh niat ikhlas karena Allah, bukan karena terpaksa, riya
(pamer), atau motivasi lainya. Firman Allah menyebutkan: وما أمروا ا لا ليعبدوا الله مخلصين له الدين
Artinya :
“Padahal meraka hanya diperintah menyembah Allah dengan
ikhlas menaati-Nya dalam (menjalankan) agama” (Q.S. Al-Bayyinah: 5).
Adapun niat untuk shalat dhuha ialah :
أصلى سنة الضحى ركعتين لله تعالى
Artinya :
“Aku berniat shalat sunah dhuha dua rakaat
karena Allah ta’ala”
Bacaan surat shalat dhuha tidak ada
keterangan dari Rasulullah mengenai surat tertentu yang harus dibaca ketika
shalat dhuha. Kita dipersilhkan membaca
surat apa pun sesuai dengan kemampuan dan keinginan kita. Kita pun
diperkenankan untuk membaca surat Adh-Dhuha, Asy-Syams, atau surat-surat lain
yang menjadi favorit atau pilihan. Allah berfirman :
Artinya :
“Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an…”
(Q.S. Al-Muzzammil: 20). Tidak salah jika kita membaca surat Adh-Dhuha di dalam
salah satu rakaat shalat dhuha. Sebab, banyak nilai-nilai
moral dan spiritual yang terkandung di dalamnya. Harapanya, kita dapat memahami
dan menghayatinya. Lalu, ,menjadikanya bekal untuk memulai aktivitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar