Secara
teknis, penerapan
pendidikan budi pekerti di sekolah setidaknya dapat ditempuh
melalui empat alternatif strategi secara terpadu,yaitu :
1.
Strategi pertama ialah dengan mengintegrasikan konten kurikulum pendidikan budi pekerti yang
telah dirumuskan ke dalam seluruh mata pelajaran yang relevan, terutama mata
pelajaran agama, kwarganegaraan, dan bahasa (baik bahasa Indonesia maupun
bahasa daerah).
2.
Strategi kedua ialah dengan
mengintegrasikan pendidikan
budi pekerti ke dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.
3.
Strategi ketiga ialah dengan
mengintegrasikan pendidikan
budi pekerti ke dalam kegiatan yang diprogramkan atau
direncanakan.
4.
Strategi keempat ialah dengan membangun
komunikasi dan kerjasama antara sekolah dengan orang tua peserta didik.
Berkaitan dengan implementasi
strategi pendidikan budi pekerti dalam kegiatan sehari-hari, secara
teknis dapat dilakukan melalui:
·
Keteladanan
Dalam kegiatan sehari-hari guru,
kepala sekolah, staf administrasi, bahkan juga pengawas harus dapat menjadi
teladan atau model yang baik bagi murid-murid di sekolah. Sebagai misal, jika
guru ingin mengajarkan kesabaran kepada siswanya, maka terlebih dahulu guru
harus mampu menjadi sosok yang sabar dihadapan murid-muridnya.
Begitu juga ketika guru hendak
mengajarkan tentang pentingnya kedisiplinan kepada murid-muridnya, maka guru
tersebut harus mampu memberikan teladan terlebih dahulu sebagai guru yang
disiplin dalam menjalankan tugas pekerjaannya.
Tanpa keteladanan, murid-murid hanya
akan menganggap ajakan moral yang disampaikan sebagai sesuatu yang omong kosong
belaka, yang pada akhirnya nilai-nilai moral yang diajarkan tersebut hanya akan
berhenti sebagai pengetahuan saja tanpa makna.
·
Kegiatan spontan.
Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang
dilaksanakan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan
pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku peserta didik yang kurang baik,
seperti berkelahi dengan temannya, meminta sesuatu dengan berteriak, mencoret
dinding, mengambil barang milik orang lain, berbicara kasar, dan sebagainya.
Dalam setiap peristiwa yang spontan
tersebut, guru dapat menanamkan nilai-nilai moral atau budi pekerti yang baik
kepada para siswa, misalnya saat guru melihat dua orang siswa yang
bertengkar/berkelahi di kelas karena memperebutkan sesuatu, guru dapat
memasukkan nilai-nilai tentang pentingnya sikap maaf-memaafkan, saling
menghormati, dan sikap saling menyayangi dalam konteks ajaran agama dan juga
budaya.
·
Teguran.
Guru perlu menegur peserta didik
yang melakukan perilaku buruk dan mengingatkannya agar mengamalkan nilai-nilai
yang baik sehingga guru dapat membantu mengubah tingkah laku mereka.
·
Pengkondisian lingkungan.
Suasana sekolah dikondisikan sedemikian
rupa melalui penyediaan sarana fisik yang dapat menunjang tercapainya pendidikan
budi pekerti.
Contohnya ialah dengan penyediaan
tempat sampah, jam dinding, slogan-slogan mengenai budi pekerti yang mudah
dibaca oleh peserta didik, dan aturan/tata tertib sekolah yang ditempelkan pada
tempat yang strategis sehingga mudah dibaca oleh setiap peserta didik.
·
Kegiatan rutin.
Kegiatan rutinitas merupakan
kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap
saat.
Contoh kegiatan ini adalah berbaris
masuk ruang kelas untuk mengajarkan budaya antri, berdoa sebelum dan sesudah
kegiatan, mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain, dan membersihkan
ruang kelas tempat belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar